Materi Makesta (Masa Kesetiaan Anggota)
( AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH )
A. PENGERTIAN AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH
Kalimat Ahlussunnah Waljama’ah berasal dari bahasa arab yang terdiri dari tiga kata yaitu :
1. Ahlun artinya : Golongan, keluarga, kelompok
2. Assunnah artinya : sesuatu yang berasal dari Rosullah bai barupa perkataan (qoulunnabi) perbuatan (fi’lunnabi), dan ketabahan nabi (taqrirunnabi)
3. Al-Jama’ah artinya : Jamatus shohabah, Khulafaurrasyidin, Assawwadul ‘adhom (golongan mayoritas islam) Jadi pengertian Ahlussunnah Waljama’ah ialah: Golongan pengikut setia ajaran Islam yang murni sebagaiman siajarkan dan diamalkanoleh rosullah beserta para sahabatnya.
B. ASAL MULA ISTILAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
Istilah Ahlussunnah Waljama’ah dengan pengertian di atas berasal dari hadits rosulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani sbb:
Yang artinya: “telah berpecah belah umat Yahudi atas 71 golongan dan telah berpecah belah umat Nasrani atas 72 golongan dan akan berpecah belah umatku menjadi 73 golongan, yang selamat diantara mereka hanya satu, sedangkan sisanya binasa” sahabat bertanya : siapakah yang selamat itu? Nabi menjawab : “Ahlussunah Waljama’ah” sahabat bertanya lagi : Apakah Ahlusunah Waljama’ah itu?” nabi menjawab : “apa yang aku perbuat hari ini dan para sahabatku”.
Kalimat Ahlussunnah Waljama’ah berasal dari bahasa arab yang terdiri dari tiga kata yaitu :
1. Ahlun artinya : Golongan, keluarga, kelompok
2. Assunnah artinya : sesuatu yang berasal dari Rosullah bai barupa perkataan (qoulunnabi) perbuatan (fi’lunnabi), dan ketabahan nabi (taqrirunnabi)
3. Al-Jama’ah artinya : Jamatus shohabah, Khulafaurrasyidin, Assawwadul ‘adhom (golongan mayoritas islam) Jadi pengertian Ahlussunnah Waljama’ah ialah: Golongan pengikut setia ajaran Islam yang murni sebagaiman siajarkan dan diamalkanoleh rosullah beserta para sahabatnya.
B. ASAL MULA ISTILAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
Istilah Ahlussunnah Waljama’ah dengan pengertian di atas berasal dari hadits rosulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani sbb:
Yang artinya: “telah berpecah belah umat Yahudi atas 71 golongan dan telah berpecah belah umat Nasrani atas 72 golongan dan akan berpecah belah umatku menjadi 73 golongan, yang selamat diantara mereka hanya satu, sedangkan sisanya binasa” sahabat bertanya : siapakah yang selamat itu? Nabi menjawab : “Ahlussunah Waljama’ah” sahabat bertanya lagi : Apakah Ahlusunah Waljama’ah itu?” nabi menjawab : “apa yang aku perbuat hari ini dan para sahabatku”.
C. LATAR BELAKANG KELAHIRAN AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH
Pada zaman Rasululah SAW tidak pernah timbul peredaan pendapat dikalangan umat Islam karena semua masalah dapat ditanyakan kepada Nabi dan langsung mendapat jawaban dari Nabi.
Dizaman Khulafaurrasyidin (11H- 14H) mulai timbul sedikit perbedaan pendapat yang pada umumnya menyangkut masalah hokum rumah tangga seperti perkawinan, perceraian dan masalah waris.
Perpecahan dikalangan umat Islam mulai timbul pada akhir pemerintahan Usman bin Afffan karena termakan propaganda Abdullah bin Saba’ seorang pendeta Yahudi asal Yaman yang mengaku masuk Islam dan berhasil mempengaruhi penndukung Ali bin Abi Tholib melahirkan golongan Syi’ah.
Pada tahun 37 H terjadilah perang shiffin antara ali dan Muawiyyah yang diakhiri dengan majlis tahkim. Kelompok Ali yang tidak setuju dengan majlis tahkim memisahkan diri dari Ali dan mendirikan golongan khawarij. Mereka memandang bahwa pelaku majlistahkim hukumnya kafir. Berbagi macam kejadian tersebut adalah tumbuh dan berkembang sebenarnya karena persoalan politik.
Pada sat-saat yang demikian ini, maka ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang pada hakekatnya adalah ajaran islam yang dipraltekkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan para sahabatnya dipopulerkan kembali dan disistemkan oleh Imam Abu Hasan Al Asy’ari dan imam Abu Mansur Al Maturidi dalam bidang aqidah, oleh Imam Hanafi,Imam Maliki, Imam Syafi’I, dan Imam Hambali dalam bidang Syari’ah, oleh Imam Junaid al Baghdadi dan Imam Al Ghozali dalam bidang akhlak / tasawuf
Pada zaman Rasululah SAW tidak pernah timbul peredaan pendapat dikalangan umat Islam karena semua masalah dapat ditanyakan kepada Nabi dan langsung mendapat jawaban dari Nabi.
Dizaman Khulafaurrasyidin (11H- 14H) mulai timbul sedikit perbedaan pendapat yang pada umumnya menyangkut masalah hokum rumah tangga seperti perkawinan, perceraian dan masalah waris.
Perpecahan dikalangan umat Islam mulai timbul pada akhir pemerintahan Usman bin Afffan karena termakan propaganda Abdullah bin Saba’ seorang pendeta Yahudi asal Yaman yang mengaku masuk Islam dan berhasil mempengaruhi penndukung Ali bin Abi Tholib melahirkan golongan Syi’ah.
Pada tahun 37 H terjadilah perang shiffin antara ali dan Muawiyyah yang diakhiri dengan majlis tahkim. Kelompok Ali yang tidak setuju dengan majlis tahkim memisahkan diri dari Ali dan mendirikan golongan khawarij. Mereka memandang bahwa pelaku majlistahkim hukumnya kafir. Berbagi macam kejadian tersebut adalah tumbuh dan berkembang sebenarnya karena persoalan politik.
Pada sat-saat yang demikian ini, maka ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang pada hakekatnya adalah ajaran islam yang dipraltekkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan para sahabatnya dipopulerkan kembali dan disistemkan oleh Imam Abu Hasan Al Asy’ari dan imam Abu Mansur Al Maturidi dalam bidang aqidah, oleh Imam Hanafi,Imam Maliki, Imam Syafi’I, dan Imam Hambali dalam bidang Syari’ah, oleh Imam Junaid al Baghdadi dan Imam Al Ghozali dalam bidang akhlak / tasawuf
D. PRINSIP SIKAP AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
Sebagai gerakan pemelihara kemurnian ajaran islam, kaum Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selalu berpedoman kepada prinsip-prinsip antara lain sebagi berikut :
1. At tawasuth ( Jalan Tengah )
Dengan prispip ini kita akan selalu mejadi kelompok yang dapat diterima oleh semua pihak dan selalu menghindari segala bentuk pendekatan bersifat ekstrim
2. I’tidal ( Adil / Tegak Lurus )
Dengan sikap I’tidal kita harus berpegang kepada norma-norma yang sudah kita yakini kebenarannya dan menghindarkan diri dari segala bentuk penyimpangan
3. Tasamuh ( Toleran )
Apabila terjadi perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan maupun dalam persoalan kemasyarakatan dan kebudayaan kita harus berlapang dada, tidak terburu-buru menerima atau menolak pendapat orang lain. Namun terhadap sesuatu yang sudah kita yakini kebenarannya kita harus berpegang kepada keyakinan kita.
4. Tawazun ( Seimbang )
Sikap ini memberikan tuntunan kepada kita agar selalu menjunjung tinggi syariat dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dengan prinsip keseimbangan. Seimbang antara dunia dan akhirat.
Sebagai gerakan pemelihara kemurnian ajaran islam, kaum Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selalu berpedoman kepada prinsip-prinsip antara lain sebagi berikut :
1. At tawasuth ( Jalan Tengah )
Dengan prispip ini kita akan selalu mejadi kelompok yang dapat diterima oleh semua pihak dan selalu menghindari segala bentuk pendekatan bersifat ekstrim
2. I’tidal ( Adil / Tegak Lurus )
Dengan sikap I’tidal kita harus berpegang kepada norma-norma yang sudah kita yakini kebenarannya dan menghindarkan diri dari segala bentuk penyimpangan
3. Tasamuh ( Toleran )
Apabila terjadi perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan maupun dalam persoalan kemasyarakatan dan kebudayaan kita harus berlapang dada, tidak terburu-buru menerima atau menolak pendapat orang lain. Namun terhadap sesuatu yang sudah kita yakini kebenarannya kita harus berpegang kepada keyakinan kita.
4. Tawazun ( Seimbang )
Sikap ini memberikan tuntunan kepada kita agar selalu menjunjung tinggi syariat dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dengan prinsip keseimbangan. Seimbang antara dunia dan akhirat.
E. DASAR BERPIJAK AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
Ahlus Sunnah Wal Jama’h adalah golongan pengikut ajaran islam yang selalu berpegang teguh pada :
1. Al Qur’an
Karena islam adalah wahyu yang bersumber dari Alloh sedangkan Al Qur’an adalah firman Alloh, maka sudah tentu pedoman hidup kita harus berpegang teguh kepada kitabullah.
2. Sunnah Rosul
Al Qur’an bersifat global dan tidak rinci, karena itu Rosulloh diberi tugas untuk menjelaskan secara gambling agar umatnya dapat mengerjakan perintah Allah secara benar
3. Ijma’ Para Sahabat
Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selalu berpegang teguh pada sunnah sahabat Karen beberapa pertimbangan antara lain
a. Para sahabat hidup sezaman dengan Rosullah, sehingga mereka mendenga langsung sabda Rosullah, melihat dan menghayati
b. Banyak hadits yang menjelaskan kemampuan para sahabat dalam menghayati dan mengamalkan ajaran islam bahkan menganjurkan umat islam untuk mengikuti jejak langkah para sahabat.
4. Qiyas ( Analog )
Qiyas adalah menetapkan hokum suatu perbuatan yang belum ada ketentuan hukumnya berdasarkan suatu hokum yang sudah ditentukan nash nya, karena persamaan antara keduanya.
Ahlus Sunnah Wal Jama’h adalah golongan pengikut ajaran islam yang selalu berpegang teguh pada :
1. Al Qur’an
Karena islam adalah wahyu yang bersumber dari Alloh sedangkan Al Qur’an adalah firman Alloh, maka sudah tentu pedoman hidup kita harus berpegang teguh kepada kitabullah.
2. Sunnah Rosul
Al Qur’an bersifat global dan tidak rinci, karena itu Rosulloh diberi tugas untuk menjelaskan secara gambling agar umatnya dapat mengerjakan perintah Allah secara benar
3. Ijma’ Para Sahabat
Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selalu berpegang teguh pada sunnah sahabat Karen beberapa pertimbangan antara lain
a. Para sahabat hidup sezaman dengan Rosullah, sehingga mereka mendenga langsung sabda Rosullah, melihat dan menghayati
b. Banyak hadits yang menjelaskan kemampuan para sahabat dalam menghayati dan mengamalkan ajaran islam bahkan menganjurkan umat islam untuk mengikuti jejak langkah para sahabat.
4. Qiyas ( Analog )
Qiyas adalah menetapkan hokum suatu perbuatan yang belum ada ketentuan hukumnya berdasarkan suatu hokum yang sudah ditentukan nash nya, karena persamaan antara keduanya.
KE NU AN
A. MABADI’ KHOIRU UMMAH
Secara harfiah berarti prinsip-prinsip dasar pembentukan umat terbaik. Pengertian lain adalah gerakan yang diarahkan pada semangat tolong-menolong dalam biodang ekonomi dengan meningkatkan pendidikan moral yang bertumpu pada tiga prinsip yaitu : Jujur , dapt dipercaya, dan tolong menolong.
Mabadi’ khoiru ummah meliputi lima butir yaitu :
1. As Shidiqqu
Mengandung arti kejujuan atau kebenaran, kesungguhan atau mujahadah, keterbukaan
2. Al Amanah wal Wafa bil Ahdli
Mengandung arti dapat dipercaya dalam hal diniyah maupun ijtimaiyah, setia, patuh dan taat kepada Alloh dan pimpinan, tepat janji melaksanakan semua perjanjian baik yang dibuat sendiri maupun yang melekat pada kedudukannya sebagai mualaf
3. Al Adalah
Mengandung arti obyektif, proposional dan tat azas.
4. At Ta’awun
Tolong menolong, setia kawan dan gotong royong dalam kebaikan dan taqwa. Atau timbal
5. Istiqomah
Tetap dan tidak begeser dari jalursesuai dengan ketentuan dari Allah dan Rosullah,
A. MABADI’ KHOIRU UMMAH
Secara harfiah berarti prinsip-prinsip dasar pembentukan umat terbaik. Pengertian lain adalah gerakan yang diarahkan pada semangat tolong-menolong dalam biodang ekonomi dengan meningkatkan pendidikan moral yang bertumpu pada tiga prinsip yaitu : Jujur , dapt dipercaya, dan tolong menolong.
Mabadi’ khoiru ummah meliputi lima butir yaitu :
1. As Shidiqqu
Mengandung arti kejujuan atau kebenaran, kesungguhan atau mujahadah, keterbukaan
2. Al Amanah wal Wafa bil Ahdli
Mengandung arti dapat dipercaya dalam hal diniyah maupun ijtimaiyah, setia, patuh dan taat kepada Alloh dan pimpinan, tepat janji melaksanakan semua perjanjian baik yang dibuat sendiri maupun yang melekat pada kedudukannya sebagai mualaf
3. Al Adalah
Mengandung arti obyektif, proposional dan tat azas.
4. At Ta’awun
Tolong menolong, setia kawan dan gotong royong dalam kebaikan dan taqwa. Atau timbal
5. Istiqomah
Tetap dan tidak begeser dari jalursesuai dengan ketentuan dari Allah dan Rosullah,
B. KHIITAH NU
Khittah NU berarti garis-garis pendirian, perjuangan dan kepribadian Nahdlatul Ulama baik yang berhubungan dengan keagamaan maupun urusan kemasyarakatan baik perorangan maupun organisasi. Fungsi garis-garis itu dirumuskan sebagai landasan berfikir, bersikap dan bertindak. Warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perorangan maupun organisasi serta dalam setiap proses pengambilan keputusan.
Khittah NU berarti garis-garis pendirian, perjuangan dan kepribadian Nahdlatul Ulama baik yang berhubungan dengan keagamaan maupun urusan kemasyarakatan baik perorangan maupun organisasi. Fungsi garis-garis itu dirumuskan sebagai landasan berfikir, bersikap dan bertindak. Warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perorangan maupun organisasi serta dalam setiap proses pengambilan keputusan.
C. NU DALAM PERKEMBANGAN
Nahdlatul Ulama dalah organisasi sosial keagamaan yang hingga kini masih tetap kokoh dan berakar kuat terutama di pedesaan di pulau jawa dan Indonesia pada umumnya. Para pendirinya sendiri terdiri atas ulama pesantren yang derajat keilmuan agamanya tinggi dan kokoh dalam berpegang pada salah satu madzhab madzhab Ahluss Sunnah Wal Jama’ah. Faham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merupakan jiwa NU dan dipahami sebagai ajaran islam yang hakiki, nahkan mengilhami strategi dalam perjuangan NU. Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang berintikan pertautan antara tauqid, fikih dan tasawuf. Tiga kesatuan inilah yang membetuk watak NU berbeda dengan organisasi islam lainnya. Nu selalu tampil fleksibel, toleran dan akomodatif baik dalam kehidupan sosial keagaman maupun kemasyarakatan.
Karena watak itulah seringkali NU menerima tuduhan sebagai oportunis, menurut kemauan penguasa dan menyenangkanpihak pemerintah. Tuduhan-tuduhan itu memng harus diterima NU sebagai kebenaran pandangan sepintas lalu. Sehingga dalam pandangan selanjutnya akan diketemukan perubahan sikap aatau watak NU yang sangat bertentangan dengan yang biasa ditampilkan. Watak itu akan segera berubah jika persoalan yang diahadapi baik keagamaan maupun kemasyarakatan, tidak sedikitpun terpaut dengan nilai-nilai yang dianut NU
Dengan liku-liku perjuangan NU tersebut, membuat NU semakin kaya pengalaman dan mantab dalam perjuangannya. Juga tidak kalah pentingnya dengan adanya pertautan fiqih (Islam), Tasawuf (Ikhsan) dan Tauqid (Iman) yang menjadi pedoman ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah NU, sehingga membentuk watak, karakter, serta pandangan NU dan warganya
Nahdlatul Ulama dalah organisasi sosial keagamaan yang hingga kini masih tetap kokoh dan berakar kuat terutama di pedesaan di pulau jawa dan Indonesia pada umumnya. Para pendirinya sendiri terdiri atas ulama pesantren yang derajat keilmuan agamanya tinggi dan kokoh dalam berpegang pada salah satu madzhab madzhab Ahluss Sunnah Wal Jama’ah. Faham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merupakan jiwa NU dan dipahami sebagai ajaran islam yang hakiki, nahkan mengilhami strategi dalam perjuangan NU. Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang berintikan pertautan antara tauqid, fikih dan tasawuf. Tiga kesatuan inilah yang membetuk watak NU berbeda dengan organisasi islam lainnya. Nu selalu tampil fleksibel, toleran dan akomodatif baik dalam kehidupan sosial keagaman maupun kemasyarakatan.
Karena watak itulah seringkali NU menerima tuduhan sebagai oportunis, menurut kemauan penguasa dan menyenangkanpihak pemerintah. Tuduhan-tuduhan itu memng harus diterima NU sebagai kebenaran pandangan sepintas lalu. Sehingga dalam pandangan selanjutnya akan diketemukan perubahan sikap aatau watak NU yang sangat bertentangan dengan yang biasa ditampilkan. Watak itu akan segera berubah jika persoalan yang diahadapi baik keagamaan maupun kemasyarakatan, tidak sedikitpun terpaut dengan nilai-nilai yang dianut NU
Dengan liku-liku perjuangan NU tersebut, membuat NU semakin kaya pengalaman dan mantab dalam perjuangannya. Juga tidak kalah pentingnya dengan adanya pertautan fiqih (Islam), Tasawuf (Ikhsan) dan Tauqid (Iman) yang menjadi pedoman ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah NU, sehingga membentuk watak, karakter, serta pandangan NU dan warganya
KEORGANISASIAN
I. PENGERTIAN ORGANISASI
Organisasi adalah proses kerja sama sejumlah yang terikat dalam hubungan formal dalam rangka untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Dr. Sarwoto, dasar-dasar organisasi dan manajemen) Organisasi adalah wadah sekumpulan orang yang mengabungkan diri dengan tujuan tertentu (HM. TAYLOR dan AG. Mears) Organisasi adalah tata hubungan antara orang-orang untuk dapat memungkinkan tercapainya tujuan, kerja sama dengan adanya pembagian tugas dan tangung jawab (John M. Gains, Organisasi satu pengantar).
Dari pengertian di atas maka organsiasi dapat ditinjau dari dua sorotan :
1. Organisasi sebagai wadah, di mana kegiatan admisnistrasi dilaksanakan sehingga bersifat statis atau seperti benda mati.
2. Organisasi sebagai hal yang hidup, manakala kita menyaksikan bahwa organisasi dapat meprotes tindakan sewenang-wenang dari seorang oknum, organsiasi dapat merevolusi, mendukun dan tidak menyetujuinya dari suatu kebijakan / kebijaksanaan.
Organisasi adalah proses kerja sama sejumlah yang terikat dalam hubungan formal dalam rangka untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Dr. Sarwoto, dasar-dasar organisasi dan manajemen) Organisasi adalah wadah sekumpulan orang yang mengabungkan diri dengan tujuan tertentu (HM. TAYLOR dan AG. Mears) Organisasi adalah tata hubungan antara orang-orang untuk dapat memungkinkan tercapainya tujuan, kerja sama dengan adanya pembagian tugas dan tangung jawab (John M. Gains, Organisasi satu pengantar).
Dari pengertian di atas maka organsiasi dapat ditinjau dari dua sorotan :
1. Organisasi sebagai wadah, di mana kegiatan admisnistrasi dilaksanakan sehingga bersifat statis atau seperti benda mati.
2. Organisasi sebagai hal yang hidup, manakala kita menyaksikan bahwa organisasi dapat meprotes tindakan sewenang-wenang dari seorang oknum, organsiasi dapat merevolusi, mendukun dan tidak menyetujuinya dari suatu kebijakan / kebijaksanaan.
II. UNSUR-UNSUR ORGANISASI
1. PD dan PRT (Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga)
2. Personalia Organisasi
3. Struktur Organisasi
4. Program organisasi
5. pembagian kerja
6. Permusyawaratan
III. MACAM-MACAM ORGANISASI
Organisasi terdiri dari berbagai macam, antara lain sebagai berikut:
1. Organisasi kemahasiswaan : Ekstra dan Intra Kampus
2. Organisasi profesi : Parfi, PWI, IKADIN dan IDI dll
3. Organisasi minat : Persebaya, Mitra dll
4. Organisasi Politik : PKB, PDI-P PAN dll
5. Organisasi keagamaan : NU,IPNU,IPPNU, Muhammadiyah
6. Organisasi sosial : LSM, Dll
1. PD dan PRT (Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga)
2. Personalia Organisasi
3. Struktur Organisasi
4. Program organisasi
5. pembagian kerja
6. Permusyawaratan
III. MACAM-MACAM ORGANISASI
Organisasi terdiri dari berbagai macam, antara lain sebagai berikut:
1. Organisasi kemahasiswaan : Ekstra dan Intra Kampus
2. Organisasi profesi : Parfi, PWI, IKADIN dan IDI dll
3. Organisasi minat : Persebaya, Mitra dll
4. Organisasi Politik : PKB, PDI-P PAN dll
5. Organisasi keagamaan : NU,IPNU,IPPNU, Muhammadiyah
6. Organisasi sosial : LSM, Dll
IV. TIMBULNYA ORGANISASI
1. Spontan / sporadis;
2. Diprakarsai;
3. Dibentuk oleh organisasi yang telah ada;
4. Penggabungan dan pemisahan organisasi yang ada
1. Spontan / sporadis;
2. Diprakarsai;
3. Dibentuk oleh organisasi yang telah ada;
4. Penggabungan dan pemisahan organisasi yang ada
V. PENUTUP
Bagaimanapun juga keberhasilan suatu organisasi terletak pada kerjasama yang baik dan kejelasan program serta tujuan organisasi tersebut. Untuk itu beberapa cii yang baik dari suatu organisasi antara lain:
1. Terdapat tujuan yang jelas.
2. Tujuan organisasi harus dipahami dan diterima oleh setiap orang yang ada di dalam organisasi tersebut.
3. adanya kesatuan arah (unity of direction)
4. Adanya kesatuan perintah (Unity Of Command)
5. Adanya pembagian tugas (Job description)
6. Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab.
7. penembapatan orang sesuai dengan ahlinya.
Bagaimanapun juga keberhasilan suatu organisasi terletak pada kerjasama yang baik dan kejelasan program serta tujuan organisasi tersebut. Untuk itu beberapa cii yang baik dari suatu organisasi antara lain:
1. Terdapat tujuan yang jelas.
2. Tujuan organisasi harus dipahami dan diterima oleh setiap orang yang ada di dalam organisasi tersebut.
3. adanya kesatuan arah (unity of direction)
4. Adanya kesatuan perintah (Unity Of Command)
5. Adanya pembagian tugas (Job description)
6. Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab.
7. penembapatan orang sesuai dengan ahlinya.
KEPEMIMPINAN
I. PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari, pada nmsuatu kelompok mulai dari yang kecil seperti keluarga hingga kelompok yang besar seperti organisasi sampai negara diperlukan adanya suatu pemimpin dan kepemimpinan.
Untuk memimpin dengan berhasil diperlukan kiat-kiuat tertentu yang membantu seorang pemimpin untuk berpikir, berbicara bahkan bertindak dalam kerangka tujuan yang ingin dicapai. Konsep berpikir yang jelas dari seorang pemimpin sangat diperlukan dan idealnya harus dapat dimengerti bawahannya. Dalam batas terntu, sepanjang untuk keperluan lembaganya.
Dengan demikian kegagalan dan keberhasilan suatu organisasi sebagian besar bergantung pada kualitas pemimpin organisasinya. Berangkat dari hal tersebut, orang akan cenderung mengatakan bahwa kesimpulan tersebut dilatarbelakangi oleh budaya bangsa Indonesia yang secara umum berpola paternalistik, atau berorientasi kepada “Bapak” , “Patron”, Pemimpin”, “yang lebih senior”, atau yang sejenisnya. Saya tidak mengingkari kebenaran latar belakang itu, namun saya hendak membawa keranah yang lebih luas.
Pada dasarnya, manusia adalah ciptaan Tuhan yang mendapat tugas untuk menjadi pemimpin dunia (khalifatullah). Tugas pertama adalah untuk memimpin dirinya sendiri sendiri. Sayangnya, tidak jarang tugas ini yang tidak mampu kita lakukan. Kita mampu mendidik orang lain – anak buah kita – untuk mempunya disiplin, misalnya, namun kita sendiri tidak mau disiplin. Kita mampu membuat orang lain mematuhi aturan, namun kita sendiri tidak mampu (atau tidak mau) mengikuti aturan tesebut. Kesemuanya Karena kita tidak meliki kompetensi kepemimpinan)
Dalam kehidupan sehari-hari, pada nmsuatu kelompok mulai dari yang kecil seperti keluarga hingga kelompok yang besar seperti organisasi sampai negara diperlukan adanya suatu pemimpin dan kepemimpinan.
Untuk memimpin dengan berhasil diperlukan kiat-kiuat tertentu yang membantu seorang pemimpin untuk berpikir, berbicara bahkan bertindak dalam kerangka tujuan yang ingin dicapai. Konsep berpikir yang jelas dari seorang pemimpin sangat diperlukan dan idealnya harus dapat dimengerti bawahannya. Dalam batas terntu, sepanjang untuk keperluan lembaganya.
Dengan demikian kegagalan dan keberhasilan suatu organisasi sebagian besar bergantung pada kualitas pemimpin organisasinya. Berangkat dari hal tersebut, orang akan cenderung mengatakan bahwa kesimpulan tersebut dilatarbelakangi oleh budaya bangsa Indonesia yang secara umum berpola paternalistik, atau berorientasi kepada “Bapak” , “Patron”, Pemimpin”, “yang lebih senior”, atau yang sejenisnya. Saya tidak mengingkari kebenaran latar belakang itu, namun saya hendak membawa keranah yang lebih luas.
Pada dasarnya, manusia adalah ciptaan Tuhan yang mendapat tugas untuk menjadi pemimpin dunia (khalifatullah). Tugas pertama adalah untuk memimpin dirinya sendiri sendiri. Sayangnya, tidak jarang tugas ini yang tidak mampu kita lakukan. Kita mampu mendidik orang lain – anak buah kita – untuk mempunya disiplin, misalnya, namun kita sendiri tidak mau disiplin. Kita mampu membuat orang lain mematuhi aturan, namun kita sendiri tidak mampu (atau tidak mau) mengikuti aturan tesebut. Kesemuanya Karena kita tidak meliki kompetensi kepemimpinan)
II. FUNGSI KEPEMIMPINAN
Sebelum kita memahami fungsi daripada kepemimpinan terlebih dahulu mari kita pahami makna kepemimpinan. Secara etimologi leadership (Kepemimpinan) berasal dari bahasa Inggris yang artinya pemimpin atau kepemimpinan. Atau adapun secara terminology dapat dirumuskan sebagai berikut: Kepemimpinan adalah kemampuan atau kesiapan yang dimiliki oleh seseorang yang dapat mempengaruhi, medorong, mengajak, menunutun, menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh tersebut, selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu pencapaian sesuatu maksud atau tujuan.
Salah satu hal yang perlu dipahami bersama adalah bahwa kepemimpinan berbeda dengan keilmuan dan manajemen. Kepemimpinan adalah praktek dan bukan teori saja. Oleh karena itu tugas pokok kepemimpinan adalah mengambil keputusan-keputusan strategis, maka tatkala menjadi pemimpin yang terutama adalah bagaimana kita memiliki tiga pilar utama kepemimpinan. Yakni kemampuan yang meliputi Intellectual Quality, Emotional Quality dan Spiritual Quality. Sehinga dengan demikian tidak cukup dengan intelektual quality saja. Kualitas intelektual membuat kita mampu memilih data, informasi, dan opini. Data emosional akan menunjukkan bahwa kita mampunyai kemampuan untuk membuat keputusan dengan tepat, dan akurat. Dengan pengusaaan Spiritual Quality kita mempunyai fondasi nilai bahwa keputusan yang kita buat, apapun keputusan itu, harus kita pertanggungjawabkan sendiri – mengingat, pemimpin selalu berkapasitas alone-ness. Dalam ranah intelektual, pertanggungjawaban kita berikan kepada keilmuan dan standard-operating-procedures yang sudah ada. Dalam ranah emosional, pertanggungjawaban kita berikan kepada manusia-mansusia lain yang terkait sebagai manusia. Dalam ranah spiritual, pertanggungjawaban akan diminta setelah kita mati dan menghadap Yang Maha Kuasa.
Alhasil, kita harus memahami tugas daripada seorang pemimpin adalah sebagai pelopor dan penanggungjawab, ideology dan planner, bapak dan ibu atau orang tua dan symbol of group, contoh dan pendukung , pengarah dan penggerak, wakil dari anggota dan pengembang imajinasi. Dengan demikian, si pemimpin bukan pemimpin saja, namun seorang bapak, penasehat, pelindung dan teladan. Pepatah mengatakan “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani adalah BENAR!.
Sebelum kita memahami fungsi daripada kepemimpinan terlebih dahulu mari kita pahami makna kepemimpinan. Secara etimologi leadership (Kepemimpinan) berasal dari bahasa Inggris yang artinya pemimpin atau kepemimpinan. Atau adapun secara terminology dapat dirumuskan sebagai berikut: Kepemimpinan adalah kemampuan atau kesiapan yang dimiliki oleh seseorang yang dapat mempengaruhi, medorong, mengajak, menunutun, menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh tersebut, selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu pencapaian sesuatu maksud atau tujuan.
Salah satu hal yang perlu dipahami bersama adalah bahwa kepemimpinan berbeda dengan keilmuan dan manajemen. Kepemimpinan adalah praktek dan bukan teori saja. Oleh karena itu tugas pokok kepemimpinan adalah mengambil keputusan-keputusan strategis, maka tatkala menjadi pemimpin yang terutama adalah bagaimana kita memiliki tiga pilar utama kepemimpinan. Yakni kemampuan yang meliputi Intellectual Quality, Emotional Quality dan Spiritual Quality. Sehinga dengan demikian tidak cukup dengan intelektual quality saja. Kualitas intelektual membuat kita mampu memilih data, informasi, dan opini. Data emosional akan menunjukkan bahwa kita mampunyai kemampuan untuk membuat keputusan dengan tepat, dan akurat. Dengan pengusaaan Spiritual Quality kita mempunyai fondasi nilai bahwa keputusan yang kita buat, apapun keputusan itu, harus kita pertanggungjawabkan sendiri – mengingat, pemimpin selalu berkapasitas alone-ness. Dalam ranah intelektual, pertanggungjawaban kita berikan kepada keilmuan dan standard-operating-procedures yang sudah ada. Dalam ranah emosional, pertanggungjawaban kita berikan kepada manusia-mansusia lain yang terkait sebagai manusia. Dalam ranah spiritual, pertanggungjawaban akan diminta setelah kita mati dan menghadap Yang Maha Kuasa.
Alhasil, kita harus memahami tugas daripada seorang pemimpin adalah sebagai pelopor dan penanggungjawab, ideology dan planner, bapak dan ibu atau orang tua dan symbol of group, contoh dan pendukung , pengarah dan penggerak, wakil dari anggota dan pengembang imajinasi. Dengan demikian, si pemimpin bukan pemimpin saja, namun seorang bapak, penasehat, pelindung dan teladan. Pepatah mengatakan “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani adalah BENAR!.
III. TIPOLOGI KEPEMIMPINAN
Ada empat macam tipe atau sifat-sifat seorang pemimpin:
1. Karismatik, yaitu: pemimpin yang mempunyai daya tarik dan wibawa yang sangat tinggi, bisa dimiliki oleh orang-orang yang sangat alim lagi sholeh, meskipun orang tersebut sangat mudah melimpahkan pengaruh kepada orang lain.
2. Otokratik yaitu: pemimpin yang tidak dapat mendengarkan kritik, pendapat atau saran dari orang lain atau bawahannya, dalam mencpai tujuan disesuaikan dengan keinginannya sendiri atau pribadi, sehingga pendekatan pada bawahan dengan cara paksaan.
3. Liberal yaitu: pemimpin yang tidak tahu menahu dengan persoalan bawahannya dan mebiarkan bawahannya mencari masalah dan pemecahannya sendiri.
4. Demokratik yaitu: kekuasaan sepenuhnya pada anggota, segala keputusan berdasarkan keputusan musyawarah. Bersama dengan anggotanya pemimpin mencari masalah dan pemecahannya
Ada empat macam tipe atau sifat-sifat seorang pemimpin:
1. Karismatik, yaitu: pemimpin yang mempunyai daya tarik dan wibawa yang sangat tinggi, bisa dimiliki oleh orang-orang yang sangat alim lagi sholeh, meskipun orang tersebut sangat mudah melimpahkan pengaruh kepada orang lain.
2. Otokratik yaitu: pemimpin yang tidak dapat mendengarkan kritik, pendapat atau saran dari orang lain atau bawahannya, dalam mencpai tujuan disesuaikan dengan keinginannya sendiri atau pribadi, sehingga pendekatan pada bawahan dengan cara paksaan.
3. Liberal yaitu: pemimpin yang tidak tahu menahu dengan persoalan bawahannya dan mebiarkan bawahannya mencari masalah dan pemecahannya sendiri.
4. Demokratik yaitu: kekuasaan sepenuhnya pada anggota, segala keputusan berdasarkan keputusan musyawarah. Bersama dengan anggotanya pemimpin mencari masalah dan pemecahannya
IV. SIFAT-SIFAT PEMIMPIN SEORANG PEMIMPIN
1. Niat hikmah kepada Allah SWT dan organisasi
2. Adil, setia dan ikhlas berkorban serta pantang menyerah.
3. Penuh energi dan inisiatif juga gemar beraktifitas.
4. tidak emosional, simpatik, sopan dn fleksibel.
5. Cakap, banyak akal, terampil, komunikatif dan terbuka.
6. Tidak mudah-menunda perkerjaan dan selalu siap mental untuk jatuh dan tumbuh kemali.
7. Taqwa kepada Allah SWT.
Demikian pula bagi seorang pemimpin hendaknya memiliki suatu sifat atau karakter yang senantiasa harus dijadikan suatu pedoman atau dasar yang meliputi hal-hal berikut:
1. Shidiq : Benar dalam keyakinan, ucapan dan tindakan.
2. Amanah : Terpercaya dalam keyakinan, ucpan, dan tindakan.
3. Tabligh : Penyampai dalam keyakinan, ucapan, dan tindakan.
4. Fathonah : Cerdas dan peka atau cepat tangap terhadap problema
yang terjadi dalam masyarakat.
1. Niat hikmah kepada Allah SWT dan organisasi
2. Adil, setia dan ikhlas berkorban serta pantang menyerah.
3. Penuh energi dan inisiatif juga gemar beraktifitas.
4. tidak emosional, simpatik, sopan dn fleksibel.
5. Cakap, banyak akal, terampil, komunikatif dan terbuka.
6. Tidak mudah-menunda perkerjaan dan selalu siap mental untuk jatuh dan tumbuh kemali.
7. Taqwa kepada Allah SWT.
Demikian pula bagi seorang pemimpin hendaknya memiliki suatu sifat atau karakter yang senantiasa harus dijadikan suatu pedoman atau dasar yang meliputi hal-hal berikut:
1. Shidiq : Benar dalam keyakinan, ucapan dan tindakan.
2. Amanah : Terpercaya dalam keyakinan, ucpan, dan tindakan.
3. Tabligh : Penyampai dalam keyakinan, ucapan, dan tindakan.
4. Fathonah : Cerdas dan peka atau cepat tangap terhadap problema
yang terjadi dalam masyarakat.
V. SIFAT KEMASYARAKATAN SEORANG PEMIMPIN
Sudah menjadi suatu kewajaran, bahwa seorang pemimpin hendaknya mampu dan bisa untuk senantiasa berinteraksi dengan masyarakat disekitarnya dengan secara meluas. Dengan demikian seorang pemimpin dalam hidup bermasyarakat hendaknya juga memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Tawasuth dan I’tidal
Sikap tengah dan berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama, dengan sikap dasar ini akan menjadi kelompik, panujtan yang bersikap dan bertindk lurus serta selalu bersifat membangun.
2. Tasammuh
Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama masalah yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.
3. Tawazzun
Sikap berimbang dalam berkhikmah, menyerasikan khikmah kepada Allah SWT. Khikmah kepada manusia, serta lingkungan hidpupnya, menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa mendatang.
4. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik, berguna dan bermanfdaat bagi kehidupan besama, serta menolak dan mencegah semua hal-hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.
“Apa Yang Paling Penting Dari Seorang Pemimpin Adalah Mengamalkan
Terhadap Apa Yang Diyakini (Walk Talk)”
Sudah menjadi suatu kewajaran, bahwa seorang pemimpin hendaknya mampu dan bisa untuk senantiasa berinteraksi dengan masyarakat disekitarnya dengan secara meluas. Dengan demikian seorang pemimpin dalam hidup bermasyarakat hendaknya juga memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Tawasuth dan I’tidal
Sikap tengah dan berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama, dengan sikap dasar ini akan menjadi kelompik, panujtan yang bersikap dan bertindk lurus serta selalu bersifat membangun.
2. Tasammuh
Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama masalah yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.
3. Tawazzun
Sikap berimbang dalam berkhikmah, menyerasikan khikmah kepada Allah SWT. Khikmah kepada manusia, serta lingkungan hidpupnya, menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa mendatang.
4. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik, berguna dan bermanfdaat bagi kehidupan besama, serta menolak dan mencegah semua hal-hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.
“Apa Yang Paling Penting Dari Seorang Pemimpin Adalah Mengamalkan
Terhadap Apa Yang Diyakini (Walk Talk)”
Sejarah IPNU
IPNU adalah singkatan dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, yang didirikan pada tanggal 24 Februari 1954 M / 20 Jumadil Akhir 1373 H di Semarang. IPNU adalah salah satu organisasi di bawah naungan Jamiyyah Nahdlatul Ulama, tempat berhimpun, wadah komunikasi, wadah aktualisasi dan wadah yang merupakan bagian integral dan potensi generasi muda Indonesia secara utuh. Oleh karena itu keberadaan IPNU memiliki posisi strategis sebagai wahana kaderisasi pelajar NU sekaligus alat perjuangan NU dalam menempatkan pemuda sebagai sumberdaya insani yang vital, yang dituntut berkiprah lebih banyak dalam kancah pembangunan bangsa dan negara dewasa ini.
Tujuan IPNU
Terbentuknya putra-putra bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggung jawab atas tegak dan terlaksananya syariat agama Islam menurut faham Ahlussunah Wal Jamaah yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945.selain hal di atas yang harus diketahui oleh warga IPNU adalah :
a. Aqidah dan Asas IPNU
IPNU beraqidah Islam yang berhaluan Ahlussunah Waljamaah dengan mengikuti salah satu madzhab empat : Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali.
IPNU berasaskan Pancasila.
b. Sifat dan Fungsi
Dalam Bab III pasal 5 tentang sifat disebutkan bahwa IPNU bersifat keterpelajaran, kekeluargaan, kemasyarakatan dan keagamaan.
Dalam Bab III pasal 6, tentang fungsi disebutkan bahwa fungsi IPNU sebagai :
- Wadah berhimpun Putra Nahdlatul Ulama untuk melanjutkan semangat nilai-nilai Nahdliyah.
- Wadah komunikasi Putra Nahdlatul Ulama untuk menggalang ukhuwah islamiyah.
- Wadah aktualitas Putra Nahdlatul Ulama dalam pelaksanaan dan pengembangan.
- Wadah kaderisasi Putra Nahdlatul Ulama untuk mempersiapkan kader-kader bangsa
c. Lambang IPNU
Dalam bab V pasal 9, tentang lambang IPNU disebutkan :
Lambang organisasi berbentuk bulat,Warna dasar hijau, berlingkar kuning ditepinya dengan diapit 2 lingkaran putih1. Di bagian atas tercantum huruf IPNU dengan 3 garis lurus pendek yang satu di antaranya lebih panjang pada bagian kanan dan kirinya semuanya berwarna putih. Di bawahnya terdapat bintang Sembilan, lima terletak sejajar yang satu di antaranya lebih besar terletak di tengah dan empat bintang lainnya terletak mengapit membentuk sudut segitiga, semua berwarna kuning. Di antara bintang yang mengapit, terdapat dua kitab dan dua bulu angsa bersilang berwarna putih.

“Lambang IPNU”
Makna lambang IPNU :
Ø Lambang organisasi berbentuk bulat, berarti kontinuitas
Ø Warna dasar hijau tua, berarti subur
Ø Warna kuning melingkar, berarti hikmah dan cita-cita yang tinggi
Ø Warna putih yang mengapit warna kuning, berati suci
Ø Sembilan bintang melambangkan keluarga Nahdlatul Ulama, yaitu: a. Lima bintang di atas yang satu besar di tengah melambangkan Nabi Muhammad, dan empat lainnya di kanan dan kirinya melambangkan khulafaur rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khotob, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib) b. Empat bintang berada di bawah melambangkan madzhab empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi`i dan Hambali
Ø Kata IPNU dicantumkam di bagian atas yang menunjukkan nama organisasi
Ø Tiga titik di antara kata IPNU mewakili slogan Belajar, Berjuang, Bertaqwa
Ø Enam strip pengapit huruf IPNU, berati rukun iman
Ø Dua kitab di bawah bintang berati al-Qur`an dan al-hadits
Ø Dua bulu angsa bersilang di bawah kitab berarti sintesa antara ilmu umum dan ilmu agama
Sejarah IPPNU
Ø Berawal dari pesantren
Ø Pendiri (Umroh machfudhoh, Atika Murtadloh, Latifah Hasyim, Romlah dan Basyiroh Saimuri)
Ø Dasar pemikiran :
- Muktamar NU ke-20 tahun 1954
- “IPNU adalah satu-satunya pelajar putra NU dan untuk perempuan harus ada organisasi yang terpisah”
- Konferensi Panca daerah (28 Februari – 5 Maret 1955) Lima cabang IPNU Putri (Surakarta, Malang, Lumajang, Kediri, Yogyakarta)
- 2 Maret 1955/ 8 Rojab 1374 H adalah hari deklarasi IPNU Putri (kelak IPPNU)
Tujuan IPPNU
Terbentuknya kesempurnaan pelajar putri Indonesia yang bertaqwa, berakhlaqul
karimah, berilmu dan berwawasan kebangsaan.
a. Aqidah dan asas IPPNU
IPPNU beraqidah Islam menurut faham ahlus sunnah waljamaah dan mengikuti salah satu madzab : Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali
IPPNU berasaskan Pancasila
b. Sifat IPPNU
Organisasi kepelajaran, kemasyarakatan dan keagamaan yang bersifat nirlaba
c. Fungsi IPPNU
- Wadah berhimpun pelajar PUTRI NAHDLATUL ULAMA umtuk melanjutkan nilai-nilai dan cita-cita pejuangan NU
- Wadah komunikasi, interaksi dan integrasi pelajar putri NU untuk menggalang ukuwah islamiyah dan mengembangkan syiar islam ahlussunnah wal jama’ah
- Wadah kaderisasi NU pada basis pelajar putri untuk mempersiapkan kader-kader bangsa
- Wadah keilmuan
d. Makna Lambang IPPNU

“Lambang IPPNU”
Makna Lambang IPPNU
- Warna hijau : melambangkan kesuburan serta dinamis
- Warna putih : kesucian, kejernihan serta kebersihan
- Warna kuning : hikmah yang tinggi/ kejayaan
- Segitiga : Iman, Islam dan Ikhsan
- 2 buah garis tepi mengapit warna kuning : dua kalimat syahadat
- Sembilan bintang : yang diartikan (Nabi Muhammad SAW, 4 bintang sebelah kanan Khulafaur Rosyidin, 4 bintang sebelah kiri 4 madzhab)
- Dua kitab : Al-qur’an dan hadist
- Dua bulu bersilang : aktif menulis dan membaca untuk menambah wacana berfikir
- Dua bunga melati : perempuan dengan kebersihan pikiran dan kesucian hatinya memadukan dua unsur ilmu umum dan agama
- Lima titik diantara I.P.P.N.U. : rukun islam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar